08 September 2009

Sinopsis : Siasat Orang-Orang Pelit



Disamping memberikan keasyikan tersendiri, bacaan yang bermutu bisa mengembangkan kualitas peribadi seseorang.

Buku “Siasat Orang-Orang Pelit” ini disamping merupakan kisah-kisah anekdot lucu yang menghibur, ia juga kaya akan argumentasi, wawasan filsafat, logika yang mantap. Dengan demikian, ia juga akan membantu menggali potensi diri anda dalam berdiskusi dan berdebat.

Al-Jahizh, sang penulis, dalam karya masterpiece-nya ini mampu menghimpun dan mengisahkan dengan amat bagus folklore dari keseharian masyarakat di sekitarnya yang mengambil tema kebakhilan dan kekikiran.

Sebuah dokumantasi langka dari fenomena yang tak terasa juga menyentil diri kita.

22 August 2009

Sinopsis : 150 kisah teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq


Kehidupan Abu Bakar ra. Merupakan lembaran-lembaran indah berisi rekaman sejarah Islam yang mampu mengungguli semua model sejarah umat manusia. Kemuliaan dan keikhlasan Abu Bakar, juga kegigihannya dalam berjihad dan berdakwah untuk menegakkan prinsip kebenaran dalam sejarah umat.

Buku ini adalah tetesan pertama dari serial Khulafaur-Rasyidin. Semoga buku ini memberikan kemudahan kepada para pembaca dan menjadi sumber manfaat bagi umat manusia untuk meraih kejayaan Islam kembali.

11 August 2009

Sinopsis : Hidup tanpa dusta


Dusta telah ada sejak manusia diciptakan. Bahkan Manusialah pihak yang pertama kali menjadi korban kedustaan. Benar, pihak yang pertama kali berbuat duata bukanlah manusia, akan tetapi iblis terlaknat yang terusir dari surga. Kerana ia merupakan sifat dasar yang dimiliki oleh setan dan balatentaranya.

Namun, kedustaan seakan senantiasa hadir dalam relung kehidupan manusia tak peduli apakah hal tersebut diperbolehkan atau dilarang oleh syariat Islam yang bersifat fitri ini. Sebabnya pun beraneka ragam, mulai dari pola asuh keluarga yang keliru hingga linkungan pergaulan dan sistem sosial yang salah.

Buku ini mengajak untuk merenungi kembali makna kejujuran yang telah kita lupakan, dengan mengurai berbagai faktor penyebab munculnya kedustaan dan bagaimana melakukan terapi kepada diri peribadi maupun orang lain yang mengidap penyakit dusta.

Dengan bahasa yang mengalir lugas namun tetap berpijak di atas landasan Islam yang begitu memahami fitrah insani, penulis buku ini bukan hanya mengetengahkan jenis-jenis kedustaan yang diperbolehkan, tetapi juga bentuk-bentuk kejujuran yang dilarang.

Kelebihan buku ini dibanding buku-buku sejenis adalah kemampuan penulis untuk menghadirkan tinjauan psikologi terapan dalam menganalisis dan mengobati kebohongan, yang dipadu dengan teori-teori syariat sehingga menjadikan buku ini selalu up to date.

Selamat Menyimak!

03 August 2009

Sinopsis : De Winst

Usai menamatkan sarjana ekonomi dari Universiteit Leiden, RM Rangga Puruhita kembali ke Hindia Belanda, untuk mempraktekkan ilmu yang ia miliki demi kemajuan para pribumi. Akan tetapi, berbagai hal pelik harus ia hadapi. Mulai dari ribetnya aturan kebangsawanan Keraton Sukakarta, perjodohan paksa dengan Rr. Sekar Prembayun yang sulit ia lepaskan, hingga permasalahan ketidakadilan yang dialami buruh paksa pabrik gula yang digaji sangat rendah. Haru biru cintanya dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang Belanda totok pun ternyata terancam kandas.

Lantas, muncul Kresna, pemuda misterius yang mengaku kekasih Rr. Sekar Prembayun. Dengan sikapnya yang berandalan dan cenderung kurang ajar, Kresna justeru memprovokasi Rangga untuk bangkit melawan imperialisme belanda. Bersentuhan ideologis dengan Kresna dan Sekar Prembayun, justeru memunculkan benih-benih simpati Rngga kepada perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil itu. Akankah Rangga memilih Sekar Prembayun sebagai pasangan hidupnya? Lantas bagaimana dengan Everdine Kareen Spinoza? Apakah Rangga juga harus mengkhianati Kresna?
Sebuah novel yang menggugah jiwa. Disajikan dengan segenap kepiawaian penulisnya alam meracik sebuah tulisan yang berbobot, namun tetap sangat menarik untuk dibaca.

28 June 2009

Sinopsis : Ada rindu di Mata Peri


Bagi Neta, Mama adalah teman curhat dan partner belanja paling asyik. Sementara Peter, teman sekelas Ken yang sering dijuluki sebagai Anak Mami, dengan mata mengristal bercerita,

"Punya Mami itu spesial, Ken. Pelukan Mami paling oke, tempat paling hangat paling..."

Ketika Peter kehilangan kata-kata, Ken merasa rindunya terhadap ibu semakin membukit.
Seandainya saja ia terlahir sebagai seorang peri. Dua kepak sayap keemasan menopang tubuh mungil melayari langit tiap matahari terbit. Menuju rindu hingga langit ketujuh. Rindu. Sangat rindu Tapi bagaimana mengeja rindu kepada yang sudah tiada?

Mereka bilang ibunya meninggal ketika Ken masih berusia satu tahun. Mereka juga bilang, ibunya cuma masa lalu. Mungkin karena itu tak satu pun pertanyaan Ken diangap penting untuk dijawab. Bagaimana ibu meninggal? Di belahan mana bumi mendekapnya?

Sebab mereka, dengan cara yang sempurna, telah memutus semua jejak, hingga tak ada lagi yang bisa dikenang. Ken sedih, frustrasi. Setiap malam harus melukis wajah Ibu dalam kanvas imajinasi, dalam khayal dan mimpi-mimpi.

Seandainya saja terlahir sebagai seorang Peri, mungkin ia bisa memilih dongeng yang lebih indah. Tapi Ken bukan peri..!


18 June 2009

Sinopsis : Hafalan Shalat Delisa

anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal




Sepenggal lagu Iwan Fals, yang aslinya adalah berjudul Sore tugu Pancoran. Sepotong karya bermakna luas, tak terkecuali untuk kisah Hafalan Shalat Delisa. Dengan setting tempat berbeda, kisah Delisa berada jauh di Lhoknga, sebuah daerah yang di hiasi cantiknya panorama pantai senja. Lhoknya, berada sekitar 10 Km dari Banda Aceh. Lhoknga, porak poranda dihantam badai tsunami 26 desember 2004 silam. Dari sinilah kisah Delisa ini di mulai.

DELISA CINTA UMMI KARENA ALLAH

Delisa yang lugu, polos, dan kritis suka bertanya. Delisa kecil baru berusia 6 tahun, anak bungsu dari ummi Salamah dan abi Usman. Delisa mendapat tugas untuk menghafal bacaan-bacaan sholat, untuk selanjutnya akan di setor ke ibu guru Nur pada hari minggu 26 Desember 2004. Delisa ingin sekali bacaan sholatnya sempurna, tidak lupa-lupa dan terbolak-balik seperti waktu sebelumnya. Delisa ingin hafal untuk kesempurnaan sholatnya, untuk sujud kepadaMu. Delisa ingin hafal, karena Ummi telah menyiapkan hadiah kalung emas 2 gram berliontin D untuk Delisa, karean Abi akan membelikan sepeda untuk hafalan sholatnya jikalau lulus. Delisa ingin ya Allah.

Sampai pagi itu saatnya Delisa menyetor bacaan sholatnya, ketika bumi terguncang, tanah merekah, gempa bumi 8,9 SR. Air laut teraduk, Tsunami menyusul menyapu daratan, menjadi tangan malaikat pencabut nyawa. Tapi Delisa ingin khusu’, terus melafadzkan hafalan sholatnya. Namun, air itu telah menghanyutkan semua yang ada, menghempaskan Delisa. Shalat Delisa belum sempurna. Delisa yang kehilangan Ummi dan kakak-kakaknya.

Delisa masih bernafas, didalam pingsannya delisa melihat Ummi, kak Fatimah, kak Zahra dan kak Aisyah yang pergi tidak mengajaknya serta. Enam hari Delisa tergolek antara sadar dan tidaknya. Ketika tubuhnya di ketemukan oleh prajurit Smith yang kemudian menjadi mu’alaf dan berganti nama jadi prajurit Salam. Bahkan pancaran cahaya Delisa telah mampu memberikan hidayah pada Smith untuk bermu’alaf.

Dalam perawatannya, Beberapa waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. sampai ketika seorang ibu yang di rawat sebelahnya melakukan sholat tahajud, pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa terbangun. kaki delisa harus diamputasi. Delisa menerima tanpa mengeluh. luka jahitan dan lebam disekujur tubuhnya tidak membuatnya berputus asa. Bahkan kondisi ini telah membawa ke pertemuan dengan Abinya. Pertemuan yang mengharukan.
Delisa ingin menghafal bacaan sholatnya. susah, tampak lebih rumit dari sebelumnya. lupa dan benar-benar lupa, tidak bisa mengingatnya. Lupa juga akan kalung berliontin D untuk delisa, lupa akan sepeda yang di janjikan abi. Delisa hanya ingin menghafal bacaan sholatnya.

“orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa… Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan…”

Bukan karena Allah, tapi karena sebatang coklat, sebuah kalung berliontin D untuk Delisa, dan untuk sepeda.Dan malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung itu dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan sholatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menhafalnya. Delisan mampu melakukan Sholat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya, tanpa ada yang terlupa dan terbalik. hafalan sholat karena Allah. dan hadiah itu datang pada Delisa, Delisa menemukan kalung D untuk Delisa dalam genggaman jasad Umminya. Sesudah 3 bulan lebih.

***

Membacanya membuat aku sentimentil banget, terharu, cukup membuat perasaan ini teraduk-aduk. Mungkin inilah salah satu keajaiban tsunami diantara banyak keajaiban-keajaiban yang lain. Saya kurang tahu apakah tulisan ini adalah sebuah kisah nyata atau fiktif, tapi ini sangat mungkin terjadi kala itu.

Ada satu pertanyaan dari saya, apakah penulis buku ini pernah datang ke Lhoknga atau belum. karena dalam cerita buku ini digambarkan seolah-olah jarak Lhoknga ke Banda Aceh itu adalah jarak yang jauh, yang apabila sudah berpisah akan sulit untuk bertemu kembali. Padahal kan paling cuman 10Km atau paling lambat 15 menit perjalan dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Baca buku ini, trus ditemeni lagu ini, anggep aja sountracknya :

Aneuk Yatim by Rafli Kande
Deungo lon kisah saboh riwayat
Kisah baro that… baro that di Acheh Raya
Lam karu Acheh… Acheh… timu ngon barat ngon barat
Di saboh teumpat… teumpat meunoe calitra:

Na sidroe aneuk… jimoe siat at
Lam jeuet jeuet saat… saat dua ngon poma
Ditanyong bak ma… bak ma… “ayah jinoe pat… jinoe pat?”
Dilon rindu that… rindu that keuneuk eu rupa

Meunyo mantong hudep meupat alamat
Ulon jak seutot… jak seutot oh watee raya
Meunyo ka meuninggai… meuninggai
Meupat keuh jeurat… oh jeurat
Ulon jak siat… jak siat lon baca do’a

Udep di poma oh tan le ayah
Lon jak tueng upah tueng upah lon bri bu gata
Ka naseb tanyoe geutanyoe keuheundak bak Allah… bak Allah
Adak pih sosah… sosah tetap lon saba

Seubut le poma… “aneuk meutuah
Keuheundak bak Allah… bak Allah geutanyoe saba
Bek putoh asa… hai asa cobaan Allah… ya Allah
Saba ngon tabah… ngon tabah dudoe bahgia…

Talakee do`a… taniet bak Allah
Ube musibah… musibah bek le troh teuka
Acheh beu aman… beu aman bek le ro darah… ro darah
Seuramoe Meukah… Meukah beu kong agama.

kalau diterjemahkan kira-kira begini :
Dengarlah ku kisahkan satu riwayat
Kisah terbaru… terbaru di Acheh Raya
Di dalam kerusuhan Acheh… Acheh timur dengan barat dengan barat
Disebuah tempat… tempat begini ceritanya:

Ada seorang anak yang terus menerus menangis
Dalam setiap saat… saat berdua dengan ibunya
Dia bertanya kepada ibu… kepada ibu “ayah dimana sekarang… dimana sekarang?
Saya sangat rindu sekali… rindu sekali ingin melihat wajahnya

Jika masih hidup dimana alamatnya
Saya mahu cari… mencari ketika saya besar
Jika sudah meniggal… meninggal
Dimana kubur… kuburan nya?
Saya ingin ziarah sebentar… pergi ziarah untuk membacakan do’a

Hidup sang ibu ketika tiada sang ayah
Saya mengambil upah mengambil ubah untuk menafkahkan kamu (anak)
Sudah nasib kita nasib kita begini kehendak dari Allah… dari Allah
Walaupun susah… susah saya tetap bersabar

Ibu berkata… “Anakku yg bertuah
Kehendak dari Allah… dari Allah kita bersabar
Jangan putus asa… hai asa atas cobaan Allah… ya Allah
Sabar dan tabah… dan tabah kita akan bahagia

Kita mohon do’a… kita niatkan pada Allah
Semua musibah… musibah jangan kembali lagi
Acheh akan aman… akan aman dan jangan ada lagi pertumpahan darah… pertumpahan darah
Serambi Mekah… Mekah semoga terus kuat agama

13 June 2009

Sinopsis : Moga Bunda Disayang Allah


Di Telapak Tangan Itu Ada Mata dan Telinga : resensi novel Moga Bunda Disayang Allah


Novel Moga Bunda Disayang Allah ini adalah novel karangan Tere-Liye kedua yang diterbitkan oleh Republika yang bercerita tentang kanak-kanak. Cerita ini diilhami dari kisah nyata Hellen Adams Keller. Keller lahir 27 Juni 1880 di Alabama. Ia sebenarnya tidak terlahir buta dan tuli ( sekaligus bisu), hingga usia 19 ketika keterbatasan itu datang. Ibunya membawa Hellen menemui Alexander Graham Bell yang saat itu sedang menangani anak-anak tuli. Bell, menyarankan Hellen dan ibunya ke Institute Perkins for The Blind, di Boston. Institut ini lalu mengirimkan Anne Sullivan untuk menjadi guru Hellen.


Tahun 1980, Hellen mulai belajar bicara dengan menggunakan metode Tadoma. Metode Tadoma adalah metode berbicara menggunakan gerakan tangan, menyentuh bibir dan menyentuh leher. Ibu jari dibibir pembicara dan ketiga jari tengahnya menyentuh leher pembicara.Dalam Novel ini diceritakan seorang anak bernama Melati penderita buta dan tuli untuk bisa mengenali dunia, dan juga perjuangan seorang Pemuda bernama Karang untuk bisa keluar dari perasaan bersalah setelah kematian 18 anak didiknya dalam kecelakaan kapal.


Melati bocah berusia 6 tahun yang buta dan tuli sejak dia berusia 3 tahun. Selama 3 tahun ini dunia melati gelap. Dia tidak memiliki akses untuk bisa mengenal dunia dan seisinya. Mata, telinga dan semua tertutup baginya. Melati tidak pernah mendapatkan cara untuk mengenal apa yang ingin dikenalnya. Rasa ingin tahu yang dipendam bertahun tahun itu akhirnya memuncak, menjadikan Melati menjadi frustasi dan sulit dikendalikan. Orang tuanya berusaha berbagai macam cara untuk bisa mengendalikan Melati. Bahkan tim dokter ahli yang diundang oleh orang tuanya tidak berhasil mengendalikan Melati.


Adalah Karang, yang akhirnya menjadi guru Melati. Karang sebenarnya hampir kehilangan semangat hidupnya setelah 18 anak didiknya tewas dalam kecelakaan perahu. Perasaan bersalahnya hampir setiap hari menghantuinya selama 3 tahun terakhir. Dia bahkan hampir tidak berminat ketika ibunya Melati memintanya untuk membimbing Melati. Tapi demi cintanya terhadap anak-anak Karang akhirnya datang memenuhi permintaan ibunya Melati.


Tidak mudah untuk menemukan metode pengajaran bagi Melati. Bagaimana caranya Melati bisa mendengar apa yang dikatakan Karang ?, bagaimana caranya Melati bisa melihat? Bahkan untuk menangis saja Melati tidak bisa menemukan kosakata yang benar. Dunia Melati benar-benar gelap. Melati tidak mempunyai akses untuk tahu. Tidak mempunyai cara untuk mengenal apa yang ingin dia kenal.


Karang hampir putus asa. Lalu keajaiban datang ketika air mancur membasuh lembut telapak tangan Melati. Melati merasakan aliran air di sela jemarinya. Saat itulah untuk pertama kalinya Karang melihat Melati tertawa. Karang akhirnya mengerti, melalui telapak tangan itulah karang menuliskan kata Air, dan meletakkan telapak tangan Melati kemulutnya dan berkata A-I-R. Melati akhirnya mengerti benda yang menyenangkan itu bernama air. Melalui telapak tangan Melati, air mancur yang mengalir di tangan dan sela-sela jarinya berhasil mencukilnya. Melalui telapak tangan itulah semua panca indera disitu. Akhirnya dunia Melati tidak lagi gelap. Dia bisa mengenali orang tuanya, dia bisa mengenali kursi, sendok, pohon dan sebagainya.


Cerita ini sungguh menyentuh, membuat saya tersadar walaupun kita mempunyai banyak kekurangan lantas tidak membuat kita lemah. Akan ada berjuta cara untuk menutupi kekurangan kita.Sekilas, kalau melihat gambar sampul, judul buku dan pengarangnya saya mengira novel ini bertema religius seperti novel-novel ciptaan Tere-Liye sebelumnya. Namun ternyata saya salah. Dalam menuliskan hal-hal yang religius tidak dituturkan secara vulgar sehingga Novel ini cocok untuk dibaca semua kalangan.