04 June 2009

Sinopsis : Istana Kedua


Dalam novel ini, pengarang Asma Nadia membuat emosi kita bermain saat membacanya. Pintar sekali memang pengarang membuat sebuah klimaks di mana pembaca diberi kesempatan untuk memberi ending tersendiri untuk mereka. Gantung? Menurutku nggak! Soalnya dalam novel ini memang sudah disiratkan sebuah ending namun tidak seperti ending novel-novel lain. Ending dari novel ini ada dalam perasaan hati yang tersirat.

Pernah nggak kita berpikir tentang poligami dari kacamata berbeda? Nah di dalam novel ini kita diberi sebuah coretan pena dari pengarang tentang sudut pandang yang dia berikan dari kacamata yang berbeda. Baik dari ‘istri tua’ maupun ‘istri muda’.

Jujur saat membaca ini, saya benar-benar tidak merasa harus memihak salah satu sisi. Karena menurut saya pengarang benar-benar membuat saya berpikir secara baik dan membuat saya belajar dari apa yang memang terjadi dalam ceritra itu. Sempat aku sedikit membenci tokoh Mei Rose, itu terjadi saat saya belum menyelesaikan ceritanya. Dan di satu sisi, saya membayangkan bagaimana perasaan Arini saat dia harus berbagi? Duuh, gak kebayang deh.

Namun setelah pada akhirnya aku membaca novel yang membuat pertikaian emosi dalam diri saya dan juga pertikaian tokoh yang akhirnya menjadi hidup dalam khayalan saya, saya melihat ada dua hati yang meminta untuk dilindungi. Dua hati yang menuntut cinta dari seorang pria. Pernah juga saat aku membaca novel ini menyalahkan sang pria, kenapa dia tidak tegas? Tapi aku baru mengetahuinya, di ending dari secercah perasaan yang benar-benar membuatku tak habis pikir.

Banyak sekali perang emosi yang sudah hadir dan berbesit saat membaca halaman demi halaman dalam novel ini. Bagaimana tidak? Setiap kondisi dari tema yang diambil memiliki pro dan kontra yang berbeda. Saat kita merasa pro saat membaca namun dapat berubah menjadi kontra saat kita menyelesaikan situasi yang ada. Aneh bukan?

Novel ini bagus untuk semua orang. Apalagi yang anti poligami ataupun yang merasa sudah siap dipoligami. Silakan membaca novel ini dulu sebelum membuat sebuah persepsi. Karena apapun itu, poligami tidak bisa disalahkan karena memang sudah ada hukum dan syaratnya. Silakan anda bandingkan dengan kondisi yang ada dalam novel ini. So? What are you waiting for? Beli buku ini, tuntaskan ceritanya, perdalam emosi dan khayalan anda dan silakan memainkan emosi anda!

Oleh : ipehalena (pembaca)

1 comment:

  1. Memang nama asma nadia sudah tidak asing lagi dalam ranah penulisan indonesia. Sayang kalau teman-teman tidak mengambil kesempatan menikmati hasil tulisan pengarang-pengarang seperti asma nadia,helvy tiana rossa, gola-gong, pipiet senja, afifah afra dll. Istana kedua ni buku yang tak terlalu tebal tapi cukup padat dan menarik. Saya fikir pengarang di sini tidak kalah sama dengan pengarang di malaysia, bahkan perkembangan penulisan kreatif di sini lebih pesat berkembang. Semoga kita dapat mengambil manfaat.

    ReplyDelete